Metodologi

Bagaimana prediksi ini dibuat

Sistem menggabungkan Prophet dan XGBoost dalam satu model hybrid untuk memprediksi harga Beras Medium II secara akurat dan transparan.

Alur Model Hybrid
Dari data historis hingga prediksi akhir

Data Historis

Deret waktu bulanan harga beras + faktor eksternal

Prediksi Prophet

Menangkap tren, musiman & pengaruh faktor eksternal (regressor)

Hitung Residual

Residual = harga aktual − prediksi Prophet

XGBoost Koreksi Residual

Mengoreksi sisa galat dari pola riwayat harga (lag & residual)

Prediksi Hybrid Final

Prediksi Prophet + koreksi residual XGBoost

PIHPS Nasional
  • Harga Beras Medium II — DI Yogyakarta (variabel target)
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
  • Harga Gabah Kering Giling (GKG)
Open-Meteo API
  • Curah hujan historis (reanalisis cuaca)
Badan Pusat Statistik (BPS)
  • Produksi padi
  • Inflasi pangan
Mengapa Hybrid?

Model tunggal sering kurang optimal menangkap semua pola pada data ekonomi. Harga beras punya tren & musiman yang kuat, tetapi juga volatil akibat cuaca dan kebijakan.

Arsitektur hybrid menggabungkan Prophet (menangkap tren, musiman, dan pengaruh faktor eksternal sebagai regressor) dengan XGBoost (mengoreksi sisa galat Prophet dari pola riwayat harga).

Recursive Forecasting

Prediksi multi-periode memakai recursive multi-step forecasting: hasil bulan pertama menjadi input (lag) untuk bulan berikutnya, dan seterusnya.

Teknik ini menampilkan tren jangka menengah dengan satu model, meski akumulasi galat perlu diawasi dengan cermat.

Variabel Prediksi (Faktor Eksternal)
Harga GKGCurah HujanProduksi PadiInflasi PanganFaktor Lebaran

Variabel ini menjadi regressor Prophet yang membentuk prediksi dasar. Sistem bersifat skenario: prediksi diberikan pada kondisi faktor eksternal yang diasumsikan pengguna.

Keterbatasan Sistem
  • Sistem bersifat skenario: akurasi berlaku ketika kondisi faktor eksternal pada periode target diketahui atau diasumsikan.
  • Prediksi adalah estimasi berbasis data historis & variabel yang tersedia.
  • Kebijakan pemerintah, kondisi pasar, atau kejadian tak terduga dapat memengaruhi harga aktual.
  • Faktor di luar dataset tidak dapat dimodelkan sistem.
  • Hasil prediksi tidak menjamin harga aktual di masa mendatang.
Perbandingan Performa Model
Prophet = prediksi dasar; Hybrid = setelah koreksi residual (model yang dipakai sistem). Evaluasi mode skenario, rolling backtest 2024–2026.
ModelMAPE (%)MAE (Rp)RMSE (Rp)
Prophet2.92%Rp 424Rp 635
HybridFinal2.93%Rp 426Rp 637
Akurasi pada Kondisi Realistis
Angka di atas berlaku pada mode skenario, yaitu ketika kondisi faktor eksternal bulan yang diprediksi sudah diketahui atau diasumsikan pengguna.

Pada pemakaian sehari-hari, nilai faktor eksternal bulan depan belum tersedia. Bila sistem hanya memakai data bulan terakhir yang ada, seperti nilai bawaan pada halaman prediksi, galatnya menjadi lebih besar. Perbandingan berikut memakai konfigurasi model yang sama dan hanya berbeda pada informasi yang tersedia saat prediksi dibuat.

Kondisi informasi202420252026Agregat
Faktor eksternal bulan target diketahui (mode skenario)3.78%2.72%1.30%2.92%
Hanya data sampai bulan sebelumnya15.21%7.93%1.97%9.91%

Selisih terbesar terjadi pada 2024, tahun ketika harga beras melonjak tajam, karena model yang hanya memegang data bulan lalu selalu terlambat menangkap titik balik. Pada periode harga yang relatif stabil seperti 2026, selisihnya kecil.

Teknologi yang Digunakan

Next.js 16React 19Tailwind CSS v4RechartsFastAPI (Python)Facebook ProphetXGBoostPandas / Scikit-LearnPostgreSQLTypeScript